Friday, July 18, 2014

adventure of tanah abang







Sebentar lagi mau lebaran, artinya gue harus belanja pakaian baru, bukan pakaiannya bukan buat gue, tapi buat nyokap sama bokap gue. Jadi kamis kemarin gue pergi ke tanah abang sama temen-temen sd gue, usman dan bondan. Gue sih Cuma mau beli celana jeans doang, tapi nyokap bokap nitip baju setengah lusin. Karena gue anak yang berbakti dan gue ga mau dikutuk jadi sendal jepit,  akhirnya gue turutin dan gue beliin mereka baju lebaran.

Emang berat banget shoping atau belanja ke tanah abang disaat cuaca terik dan lagi puasa. Gue, usman dan bondan berangkat sekitar jam setengah satu. Kita berencana untuk naik kereta, tetapi sebelum berangkat kita berdebat, gue pengen ke stasiun naik motor tetapi si usman ga mau, dia takut gak aman kalau motornya dititip di parkiran stasiun. Gue udah meyakinkan dia bahwa diparkiran stasiun aman. Tetapi dia tetap ngotot dan bilang ‘iya kalo motornya ga dicuri, tapi lo yakin bagian dalem motor kaya aki, karbulator, knalpot, atau spion lu aman?, gue takut bagian dalemnya dicuri dit!’ dan padahal kestasiunnya memakai motor gue dan bondan tetapi dia yang heboh.


Tetapi gue mengelak, mana ada sih yang mencuri bagian dalam motor, kalau pun ada pasti sang pencuri membawa peralatan seperti obeng, tang, kunci, linggis, pacul, bahkan kompresor. Membawa barang-barang itu kan berat, belum lagi kalau sang pencuri mulai beroprasi, pasti banyak yang melihat, kalau orang-orang sekitar bilang ‘mas, lagi servis motor ya?’. Kalau ada yang teriak ‘maling woyyy maliiinggggggg’ pasti si pencuri tertangkap basah dan Cuma bisa nangis meratapi semua ini.

Semua imajinasi gue yang gue berikan ke usman tetap tidak membuat dia luluh dan akhirnya, dari pada kesorean gue pun setuju kita naik angkot menuju ke stasiun. Sampai di angkot terasa sangat panas, banyak cabe-cabean anak smp yang lagi ngobrolin pacar mereka ‘eh cowok lo sekarang siapa?’

‘itu loh yang fbnya ‘Den Joko ingin setia’, lo kenal khan?’

‘oh iya gue kenal, cowo gue sekarang si supri cliquers dong’

Gue , usman, bondan yang mendengarkan mereka ngobrol pun sampai mimisan dan keluar busa dimulut

Singkat cerita gue udah distasiun pondok ranji, kita terakhir naik angkot s10 dari ciputat. Sampai di stasiun usman ngasih 10 ribu keabangnya, karena perkiraan kita satu orang 3 ribu, tetapi ketika kita sudah agak jauh meninggalkan angkot sang abang-abang pun berteriak ‘adek-adeeeekkk tunggu’

‘kenapa bang?’  Usman menyahut dan berharap abangnya manggil untuk ngasih kembalian seribu
‘adek uangnya kurang 2 ribu...’

Hening

Bukannya dapet kembali tetapi malah nambahin lagi 2 ribu. Merana.
Kita semua masuk ke stasiun melihat parkiran yang memakai sistem keamanan yang tinggi dengan menggunakan kartu parkir digesek seperti atm, dan memiliki sensor serta cctv yang dipasang lengkap disisi parkiran. Disaat gue merasa kagum dengan tempat parkir disini, usman langsung bilang ‘Yah dit coba tadi bawa motor aja ya’ dengan polosnya dia bilang gitu

‘KAN TADI LU YANG GAK MAU KITA BERANGKAT KESINI BAWA MOTOR’  emosi gue meluap-luap, gue pengen banget lemparin si usman ke tengah-tengah rel ketika kereta mau lewat. Tapi niat itu terhenti karena gue lagi puasa.

Kita pun membeli tiket, karena gue terakhir naik kereta satu tahun yang lalu, usman dan bondan bahkan baru sekali naik kereta, kita pun bingung karena kereta sekarang berbeda dengan menggunakan tiket berwujud kartu jaminan yang-gue-ga tau-namanya-apa.

Tidak lama kemudian keretanya pun datang, kita memasuki dengan tergopoh-gopoh. Diluar perkiraan gue yang menyangka kalau keretanya akan ramai dan penuh, ternyata sepi. Mungkin karena gue naik keretanya bukan jam pergi atau pulang kantor.

Sekitar setangah jam perjalan akhirnya kita semua sampai di tanah abang. Keluar dari stasiun gue melihat banyak banget tukang makanan yang beredar dipenjuru jalanan mulai dari es kelapa sampai makanan makanan ringan seperti gorengan, setiap gue lewat selalu ditawarin ‘de es kelapanya dek’ gue langsung menjawab dengan legowo ‘maaf mas saya puasa’ gak berapa lama ada lagi yang menawarkan ‘mas, gorengannya mas, lumayan buat nungguin buka puasa makan gorengan’

‘mas otaknya udah kebakar ya!’ gue emosi

Hampir gue mau colok mata tukang gorengannya pake gergaji mesin. Tetapi gue masih bisa menahan emosi gue. satu hal yang gue lihat disana hampir sebagian besar orang-orang disana tidak ada yang puasa, yang menjual takjil pun jualan sambil makan.

Tujuan gue adalah masuk mall tanah abangnya, tetapi gue harus melewati pasar-pasar sebelum sampai ditempat tujuan, gue melawan kerumunan ibu-ibu yang bertubuh agak besar dan anak-anak kecil yang berlari mondar-mandir, ramai banget sampai gue sesak, usman yang dari semalem gak sahur pun hampir koma.

Dengan perjuangan yang sangat berat untuk sampai ke dalam mall, akhirnya kami masuk juga. usman yang tadinya mau koma pun kembali sehat, bondan yang dari perjalanan diam pun ketika sudah masuk mall tetap diam. Usman bilang ke gue, ‘cepet dit gue disini Cuma nganterin lu aja ga ikut belanja’

‘oke man’

Lima menit kemudian usman menemukan toko jaket dan jersey kemudian mengatakan

‘dittttt bentar duluuuuuu, gue mau beli jersey deh sama jaket bentar yaaaaa’

Gue yang mendengar panggilan si usman langsung salto dan pengen banget mukul usman pake kulit manggis

Bondan tetap diam

30 menit kemudian, usman masih asik memilah-milah jersey dan mencoba untuk menego barang yang iya mau beli ‘bang 70 aja deh yaa’

‘enggak de, harga pasnya 85 ga bisa kurang’

'75 deh bang....'

'gak bisa dek....'

'80 deh...'

gak bisa dek....'

'84 lima ratus deh bang........'

Mereka berdebat cukup lama dan hasilnya usman tidak berhasil untuk nawar jaket yang iya mau beli.

Singkat cerita gue pun mencari barang-barang yang gue mau cari, gue nawar celana jeans kepada mba-mba yang berpenampilan salah gaul ‘mba yang ini berapa?’

‘700 ribu dek’

‘HAAAAAAAHHHHHHH’ gue kaget

Orang-orang disekitar gue pingsan, gak tahan sama bau mulut gue

Ternyata 700 ribu itu adalah harga setengah lusin dari celana itu, gue mikirnya harga satu barang segitu, gue pun mulai mencari barang-barang untuk nyokap sama bokap gue, gue mencari dari lantai dasar sampai ujung muter-muter ga jelas, dan akhrnya ketemu juga, gue langsung sujud syukur.

Karna barang yang gue cari sudah didapatkan akhirnya gue berniat untuk pulang, gue keluar mall, dengan muka cape, usman juga cape, bondan udah anemia, lemas lesu, lunglai dan lapar. Gue melihat kota tanah abang yang penuh dengan kendaraan, macet yang luar biasa, ditambah hujan turun dan suara klakson dari sepeda motor yang berisik menemani sore kita bertiga. Gue jadi merasa bersyukur tinggal di tangsel, yang penduduknya ga terlalu padat seperti jakarta, oh I Love TANGSEL, kok gue jadi endorse-in tangsel si, kaya dapet komisi aja dari Airin . Huh.

Oke, akhirnya gue kembali kestasiun dan membeli tiket kembali, sesudah membeli tiket dan mengambil kartu-yang-gue-gak-tau-apa-namanya, bondan langsung bilang ‘dit itu kan kartunya bisa diperpanjang jadi Cuma nambah 2000 aja. Gue hening, gue gak ngerti cara pakai kartunya, gue gaptek abis. Dan yang pengen gue mau terjun bebas ke rel kereta api adalah, kenapa bondan baru bilang setelah gue abis membeli tiket, kenapa gak sebelumnya aja dia bilangnya.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya keretanya pun tiba, kita bertiga ga dapet tempat duduk tetapi masih ada tempat kosong untuk berdiri. Gue melihat sekitar gue, ada yang bermain handphone dengan seriusnya, ada yang lagi tidur sampai berdiri, ada yang lagi kayang, ada yang lagi sikap lilin, eh engga gue bercanda. Dan ada yang lagi pacaran, mereka pelukan gitu di kereta, sambil tangan sang cowok mulai menggrepe si cewek, ini orang mesra didalem kereta sekalian aja di atas rel biar tambah sosweet, kaya gak ada tempat lain. Gue usman, bondan terus melihat mereka, usman yang melihat mereka pelukan langsung meluk tiang, gue meluk bondan.

Kereta sudah melewati satu stasiun di palmerah menuju kebayoran, sampai kebayoran petaka pun datang, puluhan orang langsung masuk gue yang berada tepat di samping pintu langsung terdorong-dorong, usman sudah terseok-seok, bondan yang bertubuh besar mejadi tembok penghalang puluhan orang masuk dengan sporadis. Ketika mereka semua masuk, posisi tubuh gue langsung berubah, kami berdesak-desakan bahkan kaki gue sampai gak napak, gue gak bisa nafas, hampir koma, dan disaat gue sudah berfikir untuk nulis wasiat di kereta, keretanya sudah sampai dipondok ranji

Gue pun pulang dengan badan yang sudah remuk tetapi hatinya masih utuh kok (?)

Udah ah capek, bye follow gue insyaallah berkah @adityaawldn
  

No comments:

Post a Comment