Sebentar lagi mau lebaran, artinya gue
harus belanja pakaian baru, bukan pakaiannya bukan buat gue, tapi buat nyokap
sama bokap gue. Jadi kamis kemarin gue pergi ke tanah abang sama temen-temen sd
gue, usman dan bondan. Gue sih Cuma mau beli celana jeans doang, tapi nyokap
bokap nitip baju setengah lusin. Karena gue anak yang berbakti dan gue ga mau
dikutuk jadi sendal jepit, akhirnya gue turutin dan gue beliin mereka
baju lebaran.
Emang berat banget shoping atau belanja ke
tanah abang disaat cuaca terik dan lagi puasa. Gue, usman dan bondan berangkat
sekitar jam setengah satu. Kita berencana untuk naik kereta, tetapi sebelum
berangkat kita berdebat, gue pengen ke stasiun naik motor tetapi si usman ga
mau, dia takut gak aman kalau motornya dititip di parkiran stasiun. Gue udah
meyakinkan dia bahwa diparkiran stasiun aman. Tetapi dia tetap ngotot dan
bilang ‘iya kalo motornya ga dicuri, tapi lo yakin bagian dalem motor
kaya aki, karbulator, knalpot, atau spion lu aman?, gue takut bagian dalemnya
dicuri dit!’ dan padahal kestasiunnya memakai motor gue dan bondan
tetapi dia yang heboh.
Tetapi gue mengelak, mana ada sih yang
mencuri bagian dalam motor, kalau pun ada pasti sang pencuri membawa peralatan
seperti obeng, tang, kunci, linggis, pacul, bahkan kompresor. Membawa
barang-barang itu kan berat, belum lagi kalau sang pencuri mulai beroprasi,
pasti banyak yang melihat, kalau orang-orang sekitar bilang ‘mas, lagi
servis motor ya?’. Kalau ada yang teriak ‘maling woyyy
maliiinggggggg’ pasti si pencuri tertangkap basah dan Cuma bisa nangis
meratapi semua ini.
Semua imajinasi gue yang gue berikan ke
usman tetap tidak membuat dia luluh dan akhirnya, dari pada kesorean gue pun
setuju kita naik angkot menuju ke stasiun. Sampai di angkot terasa sangat
panas, banyak cabe-cabean anak smp yang lagi ngobrolin pacar mereka ‘eh
cowok lo sekarang siapa?’
‘itu loh yang fbnya ‘Den Joko ingin
setia’, lo kenal khan?’
‘oh iya gue kenal, cowo gue sekarang si
supri cliquers dong’
Gue , usman, bondan yang mendengarkan
mereka ngobrol pun sampai mimisan dan keluar busa dimulut
Singkat cerita gue udah distasiun pondok
ranji, kita terakhir naik angkot s10 dari ciputat. Sampai di stasiun usman
ngasih 10 ribu keabangnya, karena perkiraan kita satu orang 3 ribu, tetapi
ketika kita sudah agak jauh meninggalkan angkot sang abang-abang pun berteriak ‘adek-adeeeekkk
tunggu’
‘kenapa bang?’ Usman menyahut dan berharap abangnya manggil
untuk ngasih kembalian seribu
‘adek uangnya kurang 2 ribu...’
Hening
Bukannya dapet kembali tetapi malah
nambahin lagi 2 ribu. Merana.
Kita semua masuk ke stasiun melihat
parkiran yang memakai sistem keamanan yang tinggi dengan menggunakan kartu
parkir digesek seperti atm, dan memiliki sensor serta cctv yang dipasang
lengkap disisi parkiran. Disaat gue merasa kagum dengan tempat parkir disini,
usman langsung bilang ‘Yah dit coba tadi bawa motor aja ya’ dengan
polosnya dia bilang gitu
‘KAN TADI LU YANG GAK MAU KITA BERANGKAT
KESINI BAWA MOTOR’ emosi gue meluap-luap, gue pengen
banget lemparin si usman ke tengah-tengah rel ketika kereta mau lewat. Tapi
niat itu terhenti karena gue lagi puasa.
Kita pun membeli tiket, karena gue
terakhir naik kereta satu tahun yang lalu, usman dan bondan bahkan baru sekali
naik kereta, kita pun bingung karena kereta sekarang berbeda dengan menggunakan
tiket berwujud kartu jaminan yang-gue-ga tau-namanya-apa.
Tidak lama kemudian keretanya pun datang,
kita memasuki dengan tergopoh-gopoh. Diluar perkiraan gue yang menyangka kalau
keretanya akan ramai dan penuh, ternyata sepi. Mungkin karena gue naik
keretanya bukan jam pergi atau pulang kantor.
Sekitar setangah jam perjalan akhirnya
kita semua sampai di tanah abang. Keluar dari stasiun gue melihat banyak banget
tukang makanan yang beredar dipenjuru jalanan mulai dari es kelapa sampai
makanan makanan ringan seperti gorengan, setiap gue lewat selalu ditawarin ‘de
es kelapanya dek’ gue langsung menjawab dengan legowo ‘maaf mas
saya puasa’ gak berapa lama ada lagi yang menawarkan ‘mas,
gorengannya mas, lumayan buat nungguin buka puasa makan gorengan’
‘mas otaknya udah kebakar ya!’ gue emosi
Hampir gue mau colok mata tukang
gorengannya pake gergaji mesin. Tetapi gue masih bisa menahan emosi gue. satu
hal yang gue lihat disana hampir sebagian besar orang-orang disana tidak ada
yang puasa, yang menjual takjil pun jualan sambil makan.
Tujuan gue adalah masuk mall tanah
abangnya, tetapi gue harus melewati pasar-pasar sebelum sampai ditempat tujuan,
gue melawan kerumunan ibu-ibu yang bertubuh agak besar dan anak-anak kecil yang
berlari mondar-mandir, ramai banget sampai gue sesak, usman yang dari semalem
gak sahur pun hampir koma.
Dengan perjuangan yang sangat berat untuk
sampai ke dalam mall, akhirnya kami masuk juga. usman yang tadinya mau koma pun
kembali sehat, bondan yang dari perjalanan diam pun ketika sudah masuk mall
tetap diam. Usman bilang ke gue, ‘cepet dit gue disini Cuma nganterin
lu aja ga ikut belanja’
‘oke man’
Lima menit kemudian usman menemukan toko
jaket dan jersey kemudian mengatakan
‘dittttt bentar duluuuuuu, gue mau beli
jersey deh sama jaket bentar yaaaaa’
Gue yang mendengar panggilan si usman
langsung salto dan pengen banget mukul usman pake kulit manggis
Bondan tetap diam
30 menit kemudian, usman masih asik
memilah-milah jersey dan mencoba untuk menego barang yang iya mau beli ‘bang 70
aja deh yaa’
‘enggak de, harga pasnya 85 ga bisa
kurang’
'75 deh bang....'
'gak bisa dek....'
'80 deh...'
gak bisa dek....'
'84 lima ratus deh bang........'
'75 deh bang....'
'gak bisa dek....'
'80 deh...'
gak bisa dek....'
'84 lima ratus deh bang........'
Mereka berdebat cukup lama dan hasilnya
usman tidak berhasil untuk nawar jaket yang iya mau beli.
Singkat cerita gue pun mencari
barang-barang yang gue mau cari, gue nawar celana jeans kepada mba-mba yang
berpenampilan salah gaul ‘mba yang ini berapa?’
‘700 ribu dek’
‘HAAAAAAAHHHHHHH’ gue kaget
Orang-orang disekitar gue pingsan, gak
tahan sama bau mulut gue
Ternyata 700 ribu itu adalah harga
setengah lusin dari celana itu, gue mikirnya harga satu barang segitu, gue pun
mulai mencari barang-barang untuk nyokap sama bokap gue, gue mencari dari
lantai dasar sampai ujung muter-muter ga jelas, dan akhrnya ketemu juga, gue
langsung sujud syukur.
Karna barang yang gue cari sudah
didapatkan akhirnya gue berniat untuk pulang, gue keluar mall, dengan muka
cape, usman juga cape, bondan udah anemia, lemas lesu, lunglai dan lapar. Gue
melihat kota tanah abang yang penuh dengan kendaraan, macet yang luar biasa,
ditambah hujan turun dan suara klakson dari sepeda motor yang berisik menemani
sore kita bertiga. Gue jadi merasa bersyukur tinggal di tangsel, yang
penduduknya ga terlalu padat seperti jakarta, oh I Love TANGSEL,
kok gue jadi endorse-in tangsel si, kaya dapet komisi aja dari
Airin . Huh.
Oke, akhirnya gue kembali kestasiun dan
membeli tiket kembali, sesudah membeli tiket dan mengambil
kartu-yang-gue-gak-tau-apa-namanya, bondan langsung bilang ‘dit itu kan
kartunya bisa diperpanjang jadi Cuma nambah 2000 aja. Gue hening, gue gak
ngerti cara pakai kartunya, gue gaptek abis. Dan yang pengen gue mau terjun
bebas ke rel kereta api adalah, kenapa bondan baru bilang setelah gue abis
membeli tiket, kenapa gak sebelumnya aja dia bilangnya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya
keretanya pun tiba, kita bertiga ga dapet tempat duduk tetapi masih ada tempat
kosong untuk berdiri. Gue melihat sekitar gue, ada yang bermain handphone
dengan seriusnya, ada yang lagi tidur sampai berdiri, ada yang lagi kayang, ada
yang lagi sikap lilin, eh engga gue bercanda. Dan ada yang lagi pacaran, mereka
pelukan gitu di kereta, sambil tangan sang cowok mulai menggrepe si cewek, ini orang mesra didalem kereta sekalian aja di atas rel biar tambah sosweet, kaya gak ada tempat
lain. Gue usman, bondan terus melihat mereka, usman yang melihat mereka pelukan
langsung meluk tiang, gue meluk bondan.
Kereta sudah melewati satu stasiun di
palmerah menuju kebayoran, sampai kebayoran petaka pun datang, puluhan orang
langsung masuk gue yang berada tepat di samping pintu langsung terdorong-dorong,
usman sudah terseok-seok, bondan yang bertubuh besar mejadi tembok penghalang
puluhan orang masuk dengan sporadis. Ketika mereka semua masuk, posisi tubuh gue langsung berubah, kami berdesak-desakan bahkan kaki gue sampai gak napak,
gue gak bisa nafas, hampir koma, dan disaat gue sudah berfikir untuk nulis
wasiat di kereta, keretanya sudah sampai dipondok ranji
Gue pun pulang dengan badan yang sudah
remuk tetapi hatinya masih utuh kok (?)
Udah ah capek, bye follow gue insyaallah
berkah @adityaawldn
.jpg)
No comments:
Post a Comment