‘Hai
Jen udah makan belum?, kamu lagi apa Jen?’
‘udah,
ngapain kek bukan urusan lo’ jawab jeni dengan balasan jutek, sejutek limbad
Jono
yang menerima pesan itu tidak lantas sedih ia pun cuma berfikir kalau jeni lagi
pms, atau abis duel sama singa, jadi balesnya emosi gitu.
Hari
demi hari hubungan Jono dan Jeni hanya menjadi sebuah cinta yang pincang. Jono tetap
perhatian, menunjukan rasa sayangnya ke Jeni, tetapi jeni terus cuek terhadap Jono.
Jono
dan Jeni adalah sepasang kekasih yang sudah lama berpacaran, awalnya Jeni tidak
secuek ini. Mungkin karena usia hubungan mereka yang sudah cukup lama, yap
mereka berpacaran sejak Jono dan Jeni masih menjadi zigot di masing-masing
rahim ibunya.
Usia
hubungan tidak menyurutkan cinta Jono terhadap Jeni, tetapi Jeni malah sebaliknya
dia sudah mulai cuek dan tidak peduli dengan Jono.
‘Jen,
kuping aku mimisan Jen’
‘kuping
lo congean Jon, bukan mimisan goblok’
‘eh
typo Jen, maksudnya idungnya yang mimisan’
Secuek
itu Jeni terhadap jono, tapi sebaliknya jono sangat menyayangi jeni, hampir
setiap jamnya jono selalu menanyakan kabar jeni, sampai-sampai chatnya itu
seperti alarm di hape Jeni.
Suatu
hari, Jeni yang moodnya lagi jelek, mood Jeni memang suka berubah-rubah seperti
prakiraan cuaca akhir-akhir ini, ketika mood Jeni sedang turun atau jelek, Jeni
selalu marah-marah, tidak terkontrol, bagaikan babi lepas yang siap
menghancurkan ladang pertanian.
‘jen
kamu kenapa? Jangan marah-marah jen’
‘apaan sih, kamu tuh gak ngerti Jon, udah kamu
pergi aja sana’ jawab jeni disebrang telepon
‘ada
apa jen, aku bisa bantu kamu’
‘gak
usah sok pahlawan deh lo, lo pergi aja deh mendingan’ emosi Jeni semakin
klimaks
Dan
saat itu pun Jono yang hanya manusia rapuh tiba-tiba berkata
‘Jen,
aku Cuma takut, takut aku pergi ninggalin kamu karena sifat kamu yang seperti
ini, aku gak mau kamu menyesali semuanya,begitu juga aku Jen, yang ga mau
menyesal karena kehilangan kamu’
Jeni
yang sangat emosi, sampai kepalanya keluar api unggun, langsung membalas
perkataan Jono ‘yaudah Jon, kita putus aja’
Jono
terdiam, lima menit kemudian Jono langsung sakit tipes.
Akhirnya
Jono pergi, Jono sakit hati dengan Jeni,dia menuruti permintaan Jeni yang
mengatakan ‘pergi sana, pergi yang jauh, gue gak butuh lo jon’
Kata-kata
yang sangat Jono ingat. Akhirnya jono pergi, dan sejak saat itu Jono sudah
tidak menghubungi Jeni lagi.
Satu
bulan kemudian, Jeni merasa gelisah, sudah tidak ada lagi sms Jono yang
menanyakan dia makan, lagi apa?, lagi dimana?, pulang jam berapa?, semalam
berbuat apa?, yolanda~ (?)
Sudah
tidak ada lagi perhatian Jono yang sebelumnya selalu ada, sudah tidak ada lagi
orang yang selalu memperhatikan Jeni. Yap, di moment ini lah Jeni mulai merasa
kesepian, Jeni mulai merasa kehilangan Jono. Kadang memang kita baru menyadari bahwa
orang yang selalu ada untuk kita sangat berharga, dan kita baru merasakan
berharganya orang itu ketika ia sudah tidak bersama kita.
Jeni
hanya bisa menangis, di setiap tetes air mata yang mengalir dipipi Jeni, ia
mengucapkan ‘kamu kemana jon’
Air
mata yang tidak bisa membalikan keadaan seperti semula.
Ini
adalah skema cerpen yang memberikan pesan jangan menyia-nyiakan seseorang yang
menyayangi kamu, karena orang yang menyayangi kamu, dan hadir setiap saat untuk
kamu, bisa pergi kapan saja sebelum kamu bisa membalas semua yang sudah
diberikan oleh orang tersebut.
No comments:
Post a Comment