Pernah gak sih lo denger kata-kata ‘hidup itu pilihan’. Kalo lo belum pernah
denger berarti waktu lo kecil ga pernah dikasih asi. Kalo buat orang yang udah
pernah denger, gue mau bertanya satu hal ‘apa lo percaya kalo hidup ini
pilihan?’
‘percaya kok kaka adit, dari saya kecil
saya milih hidup jadi cewe, eh pas gede tetep jadi cewe,ternyata kelamin saya
dari kecil emang cewek. jadi saya percaya’
‘ga percaya kak, abis saya milih hidup
sama ariana grande, eh malah hidup sama cabe-cabean alay’
Mungkin kalo kedua orang yang seperti
contoh diatas mereka sudah salah gaul di masa muda mereka.
Lanjut ke topik permasalahan ‘hidup itu
pilihan’. Jujur gue percaya banget sama kata-kata ini. Karena apa yang gue
lakukan sekarang ini adalah pilihan gue. mulai dari gue pilih jadi mahasiswa
dengan ikut berorganisasi, gue ngerasa hebat setelah gue ikut berorganisasi,
gue merasa beda dengan mahasiswa lain yang hanya kupu-kupu. Tetapi lama
kelamaan gue mulai menemukan masalah demi masalah dalam hidup gue karena
pilihan ini. Gue menjadi manusia yang sangat sibuk, melupakan pilihan lain yang
gue inginkan
Jadwal gue berantakan gue belum bisa
memanage waktu, kuliah gue jadi berantakan. Biasanya gue selalu main dengan
teman kelas gue disela waktu jam pelajaran, sekarang gue harus mengurus
organisasi gue dan hubungan gue juga dengan doi.
Kadang ada kegiatan yang bersamaan di
waktu yang bersamaan dan keduanya penting, misal, ada rapat di organisasi dan
juga ada uas mendadak dari dosen yang super ngeselin, serta doi minta ketemuan
di waktu yang sama pula. Kadang kalau sudah begini saya merasa sedih.
Kadang juga gue selalu berharap bertemu
naruto dan minta ajarin jurus seribu bayangan.
Pilihan gue yang kedua adalah. Memilih
memiliki seorang pacar. ya mungkin karena gue ga mau jomblo dan emang karena
perasaan sayang gue ke doi yang ga bisa dielakan, jadi gue nembak doi. Awal gue
jadian sama doi gue belum sesibuk sekarang. Dan ketika gue sibuk seperti
sekarang gue kira semua akan berjalan baik baik aja. Tetapi masalah demi
masalah terus datang dari hubungan ini, doi yang sifatnya suka berubah-rubah
seperti bunglon yang sedang diserang musuh. Dan gue yang suka ga ngerti apa
maksud doi jadi salah satu penyebab terjadinya cekcok
Yang ketiga adalah impian gue menjadi
penulis, gue memilih jalan ini, gue mulai perlahan-lahan menulis apapun yang
ingin gue tulis sampai akhirnya gue bikin blog dan mencoba membuat novel. Tapi
karena kesibukan gue di berbagai hal, akhirnya blog gue mulai vakum dari bulan
februari ini dan tulisan novel gue mentok di delapan bab.
Terlebih di semester 4 ini gue makin
sibuk aja, kuliah yang udah mulai susah, di organisasi gue udah jadi seorang
pengurus yang berati tugas gue jadi tambah bertumpuk, belum lagi dari jurusan
yang membuat kepengurusan HMJ (HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN) dan ternyata gue
malah menjadi ketua di salah satu departementnya. Wah makin kaya mahasiswa
abadi yang mengabdi kepada organisasi gue, rasanya gue pengen banget membelah
diri layaknya spora dan membagi tugas-tugas gue kepada klon-klon gue.
Soal doi? Yah jangan ditanya deh, makin
sulit aja hubungan gue, ga bisa banget denger kata ‘yang aku ada rapat’ dengan
kecepatan seperti peluru senapan doi ngebales ‘oh’. Itu artinya doi ngambek dan
ga suka kalo gue sibuk. Padahal mau bagaimana lagi gue udah seperti masuk
labirin trus ketika lolos malah kecemplung ke dalam blackhole.
harus lebih ekstra lagi menyayangi dan
mencintai doinya, untung kalo mencintai dan menyangi udah dari hari yang
terdalam.
Impian gue makin terabaikan deh, huhu,
sedih sih karena itu adalah satu-satunya harapan gue. tapi malah terabaikan.
Ternyata apa yang gue kira gak sesuai
sama ekspektasi gue, gue selalu bisa membayangkan betapa mudahnya menstabilkan
kuliah-hubungan-impian. Tetapi semuanya sulit. Ga berjalan semudah apa yang gue
pikirkan. Mungkin dalam tulisan ini jelas banget gue mengutarakan penyesalan
gue terhadap pilihan dalam hidup gue. tapi gue gak akan nyerah, gue tetap
percaya sama apa yang gue pilih pasti akan menghasilkan sesuatu yang akan
membahagiakan diri gue sendiri nantinya.....
No comments:
Post a Comment