Malam
itu gue melihat halaman samping rumah gue. Gue melihat sebuah rumah baru yang
belum jadi. Entah apa yang spesial dari rumah itu tetapi gue terus melihat
rumah itu. Tanpa disadari gue bukan melihat rumah itu namun melihat kenangan
dimasa kecil. Dahulu rumah yang gue pandangi tu adalah lahan kosong yang hanya
diisi oleh satu pohon rambutan yang besar. Gue sering bermain disitu. Main
lari-larian, main bola, main apapun dilahan itu. Sekarang lahan itu sudah
menjadi rumah. Gue tersadar sudah berapa lama waktu itu berjalan. Pandangan
langsung tertuju pada tangan gue dan tubuh gue. Gue udah 20 tahun, rasanya baru
kemarin gue berlarian di lahan kosong yang sekarang sudah jadi rumah.
Betapa
cepatnya waktu berjalan, banyak hal yang berubah karena waktu, seperti gue
sendiri, adit kecil sekarang sudah besar. Adit yang dulu suka gigitin orang
sekarang sudah menjadi mahasiswa. Gue pun melihat bintang dilangit, teringat
semua masa-masa kecil gue, teringat sebuah ucapan ‘gue kapan gede ya’ dan
akhirnya gue udah gede.
Banyak
hal yang terjadi seiring berjalannya waktu. Seperti kehilangan teman gue,
sahabat gue, namanya Gumilang wahyu nugroho. Gue kenal dia sejak SMA kelas
satu, satu hal yang menggambarkan dirinya . Dia adalah sesosok orang yang baik,
humoris, dan memiliki impian besar dalam hidupnya. Bahkan dia yang selalu
memotivasi gue menulis. Entah, lima tahun berlalu dengan segala kenangan yang
ada. Dulu sewaktu SMA kita sering banget main berdua, bertiga kadang-kadang
sama Oppy salah satu sahabat gue juga. Sering
nongkrong bareng di angkringan, dengan antusiasnya melawak dan menyampaikan
materi, ya, dia seorang stand up comedian yang amatir.
Kalau
ada waktu luang kita selalu main pes, kadang dirumah gue, kadang dirumah dia. Sehabis
main pes kita ke angkringan ngopi sambil ngobrol bareng oppy. Tertawa lepas
tanpa memikirkan apapun. Yang penting hari itu kita bahagia.
Dia
orang yang sangat berani, dia mencoba audisi SUCI 5 kompas tv, meski gagal, ia
selalu mengikuti kontes-kontes, seakan ia tau kalau nanti tak ada kesempatan
lagi ia untuk mengikutinya. Hal yang berbanding terbalik dengan gue yang
pengecut takut mencoba, dan hanya bisa berfikir tanpa bergerak.
Namun,
semuanya, tawa, canda, lawakan ia, impiannya, hilang. Bulan mei lalu ia sakit,
sakit sampai satu bulan lamanya, gue selalu menganggap dia tidak apa-apa, masih
bercanda layaknya seorang sahabat yang sedang asyik bercanda gurau. Gue gak tau
kalau apa yang ia alami cukup parah.
Sampai
penyakitnya itu terus menggerogoti dia, dan dia dirawat dirumah sakit. Saat itu
gue dan oppy langsung datang melihatnya, ia melambaikan tangannya ketika gue
masuk kedalam ruang UGD. Masih bisa tersenyum melihat kita berdua. Dan satu
kata yang selalu gue inget ketika ia dirumah sakit ‘ajak gue ngobrol py, dit’.
Iya lang kita bakal selalu ajak ngobrol lo. Ucap gue.
Sampai
akhirnya kita pulang, meninggalkan Gilang dirumah sakit da berharap ia sembuh.
Satu
minggu kemudian, kabar gilang makin memburuk, gue dan oppy kembali kerumah
sakit. Air mata tak bisa dibendung, itulah pertama kalinya gue menangisi
seorang teman, kondisinya sangat payah, bahkan untuk bernafas saja dia
kesulitan. Gue gak menyangka orang yang setiap harinya tertawa sekarang harus
lema tak berdaya di kasur rumah sakit.
Malam
itu gue kembali kerumah sakit, jumat malam tanggal 22 mei. Gue sekali lagi
melihat kondisi sahabat gue yang semakin terpuruk, kami bedoa bersama tangan
gue memegang tangannya, gue membisikan dia,’mengucapkan semangat gilang’
‘kembalilah editor gue’ ‘bangkit lawan penyakitnya lang’. Sambil menitihkan air
mata, gue ga sanggup untuk melihat gilang. Orang tuanya sudah merasa sangat
sedih, ya gue mengerti, sangat mengerti perasaan mereka.
Jam
10 malam gue pulang, di motor oppy Cuma bilang ‘bisa gak ya kita main bareng
gilang lagi’. Pertanyaan yang ngebuat gue juga berfikir, gue Cuma bisa berdoa
untuknya.
Sepulang
dari rumah sakit
Tepat
jam 12, Oppy menelfon gue, mengatakan hal yang membuat gue gak bisa berkata
apapun
‘dit
gilang meninggal’
Gue
hampir ngira itu semua Cuma mimpi, bohongan, mana mungkin ia pergi secepat ini.
Ia masih punya mimpi menjadi stand up comedian, hey lo belum ngewujudin semua
mimpi lo lang.
Tapi
ini kenyataan, kenyataan yang pahit. Sabtu pagi, gue melihat jenazahnya,
berdoa, meihat untuk yang terakhir kalinya sahabat terbaik gue. Melihat ia dikafani, gue, oppy dan semua
menangisi kepergian lo lang. Gue peluk bokapnya mengatakan, secepat itukah pak
gilang? Meski tak percaya, tapi semua ini nyata. Ia sudah pergi.
Hanya
sebuah botol tupperware yang sering gilang bawa kenang-kenangan dari lo yang
dikasih bokap lo untuk gue. Kata bokap gilang, gue adalah sahabat terbaik lo.
Dari mulut bokap gilang gue sadar betapa berharganya gue dimata lo lang,
begitupun gue, gue dan oppy sangat terpukul dengan kepergian lo, gilang.
Semua
udah beda, malam dimana gue melihat rumah baru, gue ditemani botol minum punya
gilang, gue Cuma berfikir kalau waktu ini sangat cepat berjalan, entah waktu
yang begitu cepat atau gue yang hanya diam saja, karena waktu, angkringan udah
ga seperti dulu, keluarga gilang sekarang malah akrab sama gue dan oppy padahal
dulu ga pernah tegur sapa, karena waktu yang begitu cepat, membuat gue
menyesali semuanya, gue nyesel ga pernah nonton stand up gilang setiap malem
minggu, gue nyesel waktu gilang sakit dan masih dirumah gue belum sempet
jengukin. Gue nyesel banget belum bisa selesaikan buku gue yang setiap babnya
seharusnya ada sedikit tulisan gilang.
Penyesalan
memang datangnya terlambat, namun waktu tidak akan bisa mengembalikan
penyesalan itu, gue sekarang sadar, betapa berharganya waktu, dan jika waktu
bisa diputar, gue akan selalu mengingatkan gilang untuk selalu menjaga
kesehatannya.
Tapi
semua ga bisa diputar kembali, biarkan penyesalan-penyesalan gue tenggelam
bersama waktu yang terus berjalan. Namu gue berfikir sekarang jika waktu terus
berjalan, gue akan mengikuti waktu itu berjalan bukan hanya diam dan menunggu
waktu berganti setiap detiknya.

No comments:
Post a Comment