Saturday, July 11, 2015

waktu



Malam itu gue melihat halaman samping rumah gue. Gue melihat sebuah rumah baru yang belum jadi. Entah apa yang spesial dari rumah itu tetapi gue terus melihat rumah itu. Tanpa disadari gue bukan melihat rumah itu namun melihat kenangan dimasa kecil. Dahulu rumah yang gue pandangi tu adalah lahan kosong yang hanya diisi oleh satu pohon rambutan yang besar. Gue sering bermain disitu. Main lari-larian, main bola, main apapun dilahan itu. Sekarang lahan itu sudah menjadi rumah. Gue tersadar sudah berapa lama waktu itu berjalan. Pandangan langsung tertuju pada tangan gue dan tubuh gue. Gue udah 20 tahun, rasanya baru kemarin gue berlarian di lahan kosong yang sekarang sudah jadi rumah.


Betapa cepatnya waktu berjalan, banyak hal yang berubah karena waktu, seperti gue sendiri, adit kecil sekarang sudah besar. Adit yang dulu suka gigitin orang sekarang sudah menjadi mahasiswa. Gue pun melihat bintang dilangit, teringat semua masa-masa kecil gue, teringat sebuah ucapan ‘gue kapan gede ya’ dan akhirnya gue udah gede.

Banyak hal yang terjadi seiring berjalannya waktu. Seperti kehilangan teman gue, sahabat gue, namanya Gumilang wahyu nugroho. Gue kenal dia sejak SMA kelas satu, satu hal yang menggambarkan dirinya . Dia adalah sesosok orang yang baik, humoris, dan memiliki impian besar dalam hidupnya. Bahkan dia yang selalu memotivasi gue menulis. Entah, lima tahun berlalu dengan segala kenangan yang ada. Dulu sewaktu SMA kita sering banget main berdua, bertiga kadang-kadang sama Oppy salah satu sahabat gue juga.  Sering nongkrong bareng di angkringan, dengan antusiasnya melawak dan menyampaikan materi, ya, dia seorang stand up comedian yang amatir.
Kalau ada waktu luang kita selalu main pes, kadang dirumah gue, kadang dirumah dia. Sehabis main pes kita ke angkringan ngopi sambil ngobrol bareng oppy. Tertawa lepas tanpa memikirkan apapun. Yang penting hari itu kita bahagia. 

Dia orang yang sangat berani, dia mencoba audisi SUCI 5 kompas tv, meski gagal, ia selalu mengikuti kontes-kontes, seakan ia tau kalau nanti tak ada kesempatan lagi ia untuk mengikutinya. Hal yang berbanding terbalik dengan gue yang pengecut takut mencoba, dan hanya bisa berfikir tanpa bergerak.

Namun, semuanya, tawa, canda, lawakan ia, impiannya, hilang. Bulan mei lalu ia sakit, sakit sampai satu bulan lamanya, gue selalu menganggap dia tidak apa-apa, masih bercanda layaknya seorang sahabat yang sedang asyik bercanda gurau. Gue gak tau kalau apa yang ia alami cukup parah. 

Sampai penyakitnya itu terus menggerogoti dia, dan dia dirawat dirumah sakit. Saat itu gue dan oppy langsung datang melihatnya, ia melambaikan tangannya ketika gue masuk kedalam ruang UGD. Masih bisa tersenyum melihat kita berdua. Dan satu kata yang selalu gue inget ketika ia dirumah sakit ‘ajak gue ngobrol py, dit’. Iya lang kita bakal selalu ajak ngobrol lo. Ucap gue.

Sampai akhirnya kita pulang, meninggalkan Gilang dirumah sakit da berharap ia sembuh. 

Satu minggu kemudian, kabar gilang makin memburuk, gue dan oppy kembali kerumah sakit. Air mata tak bisa dibendung, itulah pertama kalinya gue menangisi seorang teman, kondisinya sangat payah, bahkan untuk bernafas saja dia kesulitan. Gue gak menyangka orang yang setiap harinya tertawa sekarang harus lema tak berdaya di kasur rumah sakit. 

Malam itu gue kembali kerumah sakit, jumat malam tanggal 22 mei. Gue sekali lagi melihat kondisi sahabat gue yang semakin terpuruk, kami bedoa bersama tangan gue memegang tangannya, gue membisikan dia,’mengucapkan semangat gilang’ ‘kembalilah editor gue’ ‘bangkit lawan penyakitnya lang’. Sambil menitihkan air mata, gue ga sanggup untuk melihat gilang. Orang tuanya sudah merasa sangat sedih, ya gue mengerti, sangat mengerti perasaan mereka. 

Jam 10 malam gue pulang, di motor oppy Cuma bilang ‘bisa gak ya kita main bareng gilang lagi’. Pertanyaan yang ngebuat gue juga berfikir, gue Cuma bisa berdoa untuknya. 

Sepulang dari rumah sakit

Tepat jam 12, Oppy menelfon gue, mengatakan hal yang membuat gue gak bisa berkata apapun 

‘dit gilang meninggal’

Gue hampir ngira itu semua Cuma mimpi, bohongan, mana mungkin ia pergi secepat ini. Ia masih punya mimpi menjadi stand up comedian, hey lo belum ngewujudin semua mimpi lo lang.

Tapi ini kenyataan, kenyataan yang pahit. Sabtu pagi, gue melihat jenazahnya, berdoa, meihat untuk yang terakhir kalinya sahabat terbaik gue.  Melihat ia dikafani, gue, oppy dan semua menangisi kepergian lo lang. Gue peluk bokapnya mengatakan, secepat itukah pak gilang? Meski tak percaya, tapi semua ini nyata. Ia sudah pergi.

Hanya sebuah botol tupperware yang sering gilang bawa kenang-kenangan dari lo yang dikasih bokap lo untuk gue. Kata bokap gilang, gue adalah sahabat terbaik lo. Dari mulut bokap gilang gue sadar betapa berharganya gue dimata lo lang, begitupun gue, gue dan oppy sangat terpukul dengan kepergian lo, gilang. 

Semua udah beda, malam dimana gue melihat rumah baru, gue ditemani botol minum punya gilang, gue Cuma berfikir kalau waktu ini sangat cepat berjalan, entah waktu yang begitu cepat atau gue yang hanya diam saja, karena waktu, angkringan udah ga seperti dulu, keluarga gilang sekarang malah akrab sama gue dan oppy padahal dulu ga pernah tegur sapa, karena waktu yang begitu cepat, membuat gue menyesali semuanya, gue nyesel ga pernah nonton stand up gilang setiap malem minggu, gue nyesel waktu gilang sakit dan masih dirumah gue belum sempet jengukin. Gue nyesel banget belum bisa selesaikan buku gue yang setiap babnya seharusnya ada sedikit tulisan gilang. 

Penyesalan memang datangnya terlambat, namun waktu tidak akan bisa mengembalikan penyesalan itu, gue sekarang sadar, betapa berharganya waktu, dan jika waktu bisa diputar, gue akan selalu mengingatkan gilang untuk selalu menjaga kesehatannya.

Tapi semua ga bisa diputar kembali, biarkan penyesalan-penyesalan gue tenggelam bersama waktu yang terus berjalan. Namu gue berfikir sekarang jika waktu terus berjalan, gue akan mengikuti waktu itu berjalan bukan hanya diam dan menunggu waktu berganti setiap detiknya.

No comments:

Post a Comment